Review Film Danur: Sisi Lain dari Kemampuan Mata Batin

Industri film horor Indonesia mengalami masa kebangkitan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan salah satu katalisator utamanya adalah rilisnya film Danur: I Can See Ghosts pada tahun 2017. Diangkat dari novel otobiografi karya Risa Saraswati berjudul Gerbang Dialog Danur, film ini tidak hanya menawarkan ketakutan visual yang lazim ditemukan dalam genre horor, tetapi juga mengeksplorasi dimensi psikologis dan emosional dari seseorang yang diberkati sekaligus dikutuk dengan kemampuan mata batin. Melalui arahan sutradara Awi Suryadi, penonton diajak untuk melihat bahwa melihat hantu bukan sekadar soal teror, melainkan tentang kesepian dan hubungan interpersonal yang melampaui batas dimensi.

1. Premis dan Pengenalan Karakter Risa

Film ini berfokus pada karakter Risa (diperankan oleh Prilly Latuconsina), seorang gadis indigo yang sejak kecil merasa terasing dari dunia luar. Pada hari ulang tahunnya yang kedelapan, Risa yang merasa kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja, berdoa agar ia diberikan teman. Doa itu terkabul, namun tidak dengan cara yang ia bayangkan. Tiga bocah laki-laki keturunan Belanda—Peter, William, dan Janshen—muncul dalam hidupnya.

Di sinilah film ini mulai menunjukkan sisi lain dari mata batin. Alih-alih menampilkan entitas yang menakutkan, Danur memperlihatkan bagaimana mata batin menjadi jembatan bagi Risa untuk mengatasi isolasi sosialnya. Persahabatan ini digambarkan dengan sangat manis namun tragis, karena orang tua Risa hanya melihat anaknya berbicara dengan tembok kosong. Pergolakan batin Risa antara keinginan untuk hidup normal dan keterikatannya pada teman-teman gaibnya menjadi inti emosional yang kuat di babak awal film.

2. Mata Batin sebagai Beban Psikologis

Seiring bertambahnya usia, Risa menyadari bahwa kemampuan mata batinnya membawa konsekuensi berat. Setelah insiden masa kecil yang hampir merenggut nyawanya, ibunya meminta bantuan seorang dukun untuk menutup sementara “pemandangan” Risa. Namun, takdir berkata lain. Bertahun-tahun kemudian, Risa harus kembali ke rumah tua tempat ia menghabiskan masa kecilnya untuk merawat sang nenek.

Kembalinya Risa ke rumah tersebut membuka kembali memori dan indra keenamnya secara paksa. Review ini menyoroti bagaimana film Danur menggambarkan proses “melihat” sebagai beban sensorik. Cahaya yang meredup, bau busuk (danur) yang tiba-tiba muncul, dan suara-suara lirih menjadi manifestasi fisik dari mata batin yang aktif. Kemampuan ini membuat Risa tidak pernah benar-benar merasa sendirian, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi ruang privasinya. Tekanan psikologis inilah yang membuat penonton bersimpati pada Risa; ia adalah korban dari kelebihannya sendiri.

3. Teror Asih: Manifestasi Kegelapan Mata Batin

Jika Peter dan kawan-kawan mewakili sisi “terang” dari dunia gaib Risa, maka sosok Asih (diperankan dengan sangat ikonik oleh Shareefa Daanish) adalah representasi dari kegelapan yang mengintai di balik mata batin. Asih adalah hantu perempuan malang dengan latar belakang tragis yang mencoba menculik adik Risa, Riri.

Konfrontasi antara Risa dan Asih menunjukkan bahwa kemampuan mata batin bukan hanya soal melihat, tetapi juga tentang tanggung jawab dan perlindungan. Risa dipaksa menggunakan kemampuannya untuk menelusuri masa lalu kelam Asih demi menyelamatkan adiknya. Visualisasi Asih yang mencekam—dengan tatapan mata yang kosong namun tajam—memberikan kontras yang kuat terhadap persahabatan Risa dengan Peter cs. Di sini, mata batin menjadi instrumen untuk memecahkan misteri yang terkubur oleh waktu, memperlihatkan bahwa setiap entitas memiliki motif dan trauma tersendiri yang memicu mereka mengganggu dunia manusia.

4. Persahabatan Beda Dunia yang Melampaui Logika

Satu elemen yang membedakan Danur dari film horor konvensional adalah cara film ini membangun ikatan antara Risa dan ketiga teman hantunya. Hubungan mereka tidak bersifat transaksional, melainkan didasari oleh empati. Risa memahami rasa sakit yang dirasakan Peter, William, dan Janshen saat mereka kehilangan nyawa di tangan tentara Jepang. Sebaliknya, hantu-hantu kecil ini menjadi pelindung Risa saat ia menghadapi ancaman dari entitas jahat seperti Asih.

Sisi lain dari kemampuan mata batin yang ditonjolkan di sini adalah kemampuan untuk berempati pada mereka yang sudah tiada. Risa tidak melihat mereka sebagai monster, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang butuh diakui keberadaannya. Meskipun akhirnya mereka harus berpisah karena dunia mereka yang berbeda, film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa komunikasi beda dimensi bisa menjadi bentuk penyembuhan bagi kedua belah pihak.

5. Kualitas Produksi dan Akting

Secara teknis, Danur patut diapresiasi dari sisi sinematografi yang mampu membangun atmosfer gothic di dalam rumah tua. Penggunaan pencahayaan yang minim efektif menciptakan ketegangan tanpa harus selalu mengandalkan jump scare murahan. Prilly Latuconsina memberikan performa yang solid sebagai Risa, menunjukkan kerentanan sekaligus keberanian yang meyakinkan. Shareefa Daanish sekali lagi membuktikan dirinya sebagai “ratu horor” Indonesia dengan gestur dan ekspresi yang mampu membuat bulu kuduk berdiri bahkan tanpa banyak dialog.

Musik latar dan desain suara juga memegang peranan penting. Lagu “Boneka Abadi” yang dinyanyikan dalam bahasa Belanda memberikan kesan melankolis sekaligus menyeramkan, memperkuat identitas film ini sebagai horor yang berbasis pada sejarah dan memori personal.

Kesimpulan

Danur: I Can See Ghosts adalah lebih dari sekadar film horor tentang rumah berhantu. Ini adalah sebuah eksplorasi tentang bagaimana rasanya hidup di antara dua dunia. Sisi lain dari kemampuan mata batin yang ditampilkan dalam film ini adalah tentang kesepian, beban tanggung jawab, dan pencarian identitas seorang gadis muda di tengah dunia yang tidak mempercayainya. Meskipun memiliki beberapa kekurangan dalam alur yang terkadang terasa terburu-buru, film ini berhasil menyentuh sisi kemanusiaan dari hantu-hantu yang sering kita takuti. Bagi Anda yang mencari horor dengan kedalaman karakter dan sentuhan emosional, Danur adalah karya yang wajib ditonton untuk memahami kompleksitas kehidupan seorang indigo.

By James