Review Film “Gundala”: Awal dari Universe Pahlawan Super Indonesia

Kehadiran film “Gundala” pada tahun 2019 menandai sebuah peristiwa bersejarah dalam industri perfilman nasional. Di tengah dominasi film pahlawan super asal Amerika Serikat, sutradara Joko Anwar berani mengambil langkah besar untuk menghidupkan kembali tokoh legendaris ciptaan Harya Suraminata (Hasmi) ini ke layar lebar. “Gundala” bukan hanya sekadar film aksi biasa; ia adalah fondasi utama bagi proyek ambisius bernama Bumilangit Cinematic Universe (BCU) yang bertujuan memperkenalkan pahlawan lokal kepada generasi modern.

Menilai “Gundala” memerlukan kacamata yang berbeda dibandingkan saat kita menonton produk Marvel atau DC. Dengan anggaran yang jauh lebih kecil namun kreativitas yang meluap, film ini berhasil menyajikan origin story yang membumi, gelap, dan sarat akan kritik sosial yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

1. Narasi yang Membumi: Dari Rakyat untuk Rakyat

Berbeda dengan pahlawan super luar negeri yang sering kali mendapatkan kekuatan dari teknologi canggih atau eksperimen laboratorium, Sancaka (pemeran utama Gundala) lahir dari kerasnya jalanan dan ketidakadilan sistemik.

Asal-Usul Sancaka dan Trauma Masa Kecil

Film ini dibuka dengan latar belakang masa kecil Sancaka yang suram. Narasi ini dibangun dengan sangat emosional, memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan penindasan buruh merenggut kebahagiaan keluarganya. Joko Anwar berhasil menciptakan keterikatan emosional antara penonton dengan Sancaka kecil. Kita tidak hanya melihat seorang anak yang takut pada petir, tetapi seorang individu yang merasa dikhianati oleh dunia. Trauma inilah yang kemudian membentuk prinsip hidup Sancaka dewasa yang cenderung apatis: “Kalau orang lain susah, itu bukan urusan kita. Kita harus urus diri sendiri supaya aman.”

Transformasi Menjadi Gundala

Transformasi Sancaka (Abimana Aryasatya) menjadi Gundala terjadi secara bertahap dan organik. Kekuatan petir yang ia miliki tidak langsung menjadikannya sosok yang tak terkalahkan. Film ini dengan cerdik memperlihatkan Sancaka yang masih meraba-raba kekuatannya, bahkan kostum pertamanya pun terbuat dari barang-barang fungsional yang ia temukan di tempat kerja. Hal ini memberikan kesan “DIY” (Do It Yourself) yang membuat karakter Gundala terasa sangat nyata dan dekat dengan masyarakat kelas bawah.

2. Kedalaman Antagonis: Pengaruh Penguasa yang Korup

Sebuah film pahlawan super hanya akan sekuat karakter musuhnya. Dalam “Gundala”, Brata Wijaya atau yang lebih dikenal sebagai Pengkor (Bront Palarae), tampil sebagai antagonis yang luar biasa karismatik sekaligus mengerikan.

Filosofi di Balik Kejahatan Pengkor

Pengkor bukanlah penjahat yang ingin menghancurkan dunia tanpa alasan. Ia adalah produk dari ketidakadilan masa lalu yang memilih untuk membalas dendam dengan cara mengendalikan tatanan sosial. Motivasi Pengkor sangat politis; ia menggunakan media, legislasi, dan pasukan “anak-anak yatim”-nya untuk menebar ketakutan. Ia adalah representasi dari oligarki yang mampu memanipulasi persepsi publik demi kepentingan pribadi. Pertarungan antara Gundala dan Pengkor sebenarnya adalah simbol pertarungan antara harapan rakyat kecil melawan cengkeraman kekuasaan yang korup.

3. Aspek Teknis: Estetika Visual dan Koreografi Laga

Secara teknis, “Gundala” menunjukkan standar baru bagi film aksi Indonesia. Penggunaan palet warna yang suram dan desain produksi yang mendetail menciptakan atmosfer kota yang sesak dan kotor.

Koreografi Pencak Silat yang Modern

Salah satu nilai jual utama film ini adalah adegan pertarungannya. Mengingat Sancaka besar di jalanan, gaya bertarungnya tidak terlihat seperti pahlawan yang terlatih secara militer, melainkan lebih ke arah bela diri praktis dengan sentuhan pencak silat. Koreografi laga yang digarap oleh tim profesional berhasil menyajikan aksi yang intens, brutal, namun tetap estetik. Meski ada beberapa transisi CGI (Computer-Generated Imagery) pada efek petir yang masih terlihat belum sesempurna produksi Hollywood, namun secara keseluruhan, visual efeknya cukup mumpuni dan tidak mengganggu jalannya cerita.

4. Membangun Jagat Bumilangit: Koneksi yang Dinanti

Sebagai pembuka Bumilangit Cinematic Universe, “Gundala” melakukan tugas yang sangat baik dalam memberikan petunjuk (Easter Eggs) mengenai karakter lain yang akan muncul di masa depan.

Kemunculan Sri Asih dan Potensi Masa Depan

Salah satu momen paling ikonik dalam film ini adalah kemunculan singkat Sri Asih (Pevita Pearce). Kehadirannya memberikan sinyal kuat bahwa Sancaka tidak sendirian dalam menjaga keadilan. Film ini berhasil menanamkan rasa penasaran kepada penonton mengenai bagaimana berbagai pahlawan super lokal ini nantinya akan bersatu. Joko Anwar juga memperkenalkan konsep “Ghazul”, sosok misterius yang mengisyaratkan adanya ancaman yang jauh lebih besar dan bersifat mistis, membuka pintu bagi elemen fantasi yang lebih dalam di film-film berikutnya.

Kesimpulan

“Gundala” adalah sebuah pencapaian besar dalam sejarah perfilman Indonesia. Meskipun memiliki beberapa tantangan dalam hal kepadatan naskah di babak kedua yang terasa sedikit terburu-buru, film ini sukses menetapkan standar kualitas bagi genre pahlawan super lokal. Gundala bukan sekadar pahlawan yang bisa mengeluarkan petir; ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan pengingat bahwa pahlawan sejati lahir dari kepedulian terhadap sesama.

Langkah awal ini sangat krusial. “Gundala” telah berhasil membuktikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan intelektual (IP) yang kuat dan mampu bersaing secara narasi dengan standar global. Film ini adalah undangan bagi seluruh penonton Indonesia untuk bangga dan mendukung perkembangan Jagat Sinema Bumilangit.

By James